Detik-detik penantian si Pejuang Kecil

Hari ini, 10 Ramadhan… 15 06 2016…. Masih dengan perasaan kemarin, was-was dan deg degan. Kelahiran anak kedua yang udah molor hampir 4 hari. Walaupun pada umumnya orang-orang bilang just wait, bakal keluar pada waktunya, dll , tapiiii dalam lubuk hati seorang ibu tetap aja was-was. Jadi pertiga hari dari hpl, diputuskan utk memeriksakan kandungan. Khawatir seperti kejadian kehamilan pertama, pengapuran, plasenta lapuk dan pendarahan sampai tranfusi 2 kantung darah. Alhamdulillah kondisi ketuban dll masih aman. Dokter nyaranin buat nunggu maksimal tgl 18 mggu ini. Kalau belum ada kontraksi terpaksa harus diinduksi. Dalam hati selalu mencoba heart to heart sm dedek bayi, “ayo dek, kita pasti bisa tanpa induksi ataupun sc. Kita pasti bisa secara alami. Bubu tau adk pasti nggak sabar kan buat keluar. Ayo sayang!kita bisa!”. Atau dalam doa setiap saat selalu mnt kelancaran persalinan normal. Support dari kelurga? Sudah pasti selalu ngalir. Bahkan dari si kakak yang sering elus elus perut sambil bilang “cepet kuang adek  Umang. Jangan syusyah syusyah” jleb.. hati ini mencair. Sedih dan geli juga denger kata kata si kakak yg mulai lancar kalo ngomong. Okay balik ke si adek. Banyak yang ngira adanya adk ini tanpa rencana dan kebobolan, mengingat Namiyah yang masih berusia 13 bulan ketika hamil kedua. Padahal sblm kehamilan udah program ke dokter, cek kondisi rahim, dan dikasih vitamin juga. Untuk sampai ke tahap kehamilan pun butuh perjuangan.. awal kehamilan, sempet flek dan akhirnya bedrest total hampir 1 minggu. Baru masuk kerja eeh flek lagi dan setelah ke dokter ternyata ada kista yg ikut nongol. Walaupun kebanyakan bilang gpp, tenang aja, masih aman, sekali lagi sebagai seorang ibu dan awam sama yg namanya kista sangat amat bikin deg deg seer.. apalagi setelah cek, ukuran janin mengecil dari minggu lalu. Bedrest total! Banyak berdoa, vitamin dan obat kuat utk janin, makan ini itu yg alami juga buat perkuat janin. Argh! Rasanya nggak peduli dengan berat badan demi kesehatansi adk. Bulan selanjutnya pas kontrol, alhamdulillah si kista berangsur mengecil dan hilang. ALHAMDULILLAH. karena ke khawatiran terbesar kalau si kista nutupin jalan lahir (kata teman). Bulan-bulan selanjutnya perkembangan calon adk baik-baik aja. Tapi suatu ketika diusia kandungam 4 bulan, hujan deraaas dan nggak sadar ada genangan air karena rembesan di kamar. Kepleset dan jatuh dengan dada terbentur ujung tempat tidur, refleks tangan langsung jd tumpuan biar panggul nggak jatuh duluan. Cidera dada dan tangan. Besoknya langsung ke RS cek kondisi kandungan. Alhamdulillah baik-baik aja. Tapi dokter tetap kasih penguat. Diusia kandungan 6 bulan pun sempat jatuh karena celana nyangkut distandard motor matic (posisi turun dr motor dan di bonceng). Oh sayangku, jagoan dan pejuang kecilku… Sungguh betapa hebatnya untuk bertahan dalam perut Bubu.. kini di detik detik penantianpunn masih deg degan.  Menunggu dengan penuh keyakinan semua baik baik aja. Menanti dengan penuh positif thinking kita berdua bisa lewati semua ini. Karena proses ini bukan hanya usaha bubu, tapi juga perjuangan adk.. Bismillah.. kita bisa!!!!

Iklan

Kamus Bahasa Namiyah

 

 

Begini rasanya jadi Ibu. Padahal hanya akan membawa pulang crayon untuk Namiyah yang lagi hobi corat coret di buku gIMG_20160125_160934ambar, Deg degan sama bahagianya dari tadi siang. Apalag kalau pulang bawa makanan favoritnya kayak roti, bakso, atau apel. Hmm.. deg-degan terus sambil lirik jam pulang.

Namiyah yang juga calon kakak sekarang udah mau 19 bulan umurnya. Da ngertiii banget kalau bakal punya adek. Perut sering sekali di elus-elus, di ciumin, bahkan sampai sodori dot isi susu hangat favorit Miya untuk adek kesayangannya dalam perut. Saya Cuma ketawa geli liat tingkahnya. Kebahagiaan bertambah-tambah tiap harinya, sekarang si adek yang masuk 5 bulan, aktif sekali nendang-nendang. Disambut dengan celotehan Namiyah  yang kadang bisa kami pahami kadang nggak ngerti blass apa maksudnya si kakak ini. Saya merasa menjadi Ibu yang paling bahagia.

Suatu malam, sekitar pukul 21.05 Wita, Namiyah sedang mencari posisi uenak untuk bobok. Nggelinding sana sini, muter sana sisni, guling-guling di tempat tidur depan ruang TV. Bersamaan dengan ayyah yang lagi asyik dengerin lagunya Steel Heart di dekat si kakak. Si kakak menghentikan aktifitas guling-gulingnya dan berkata, ‘’Ayyah, nanan ibut. Niya Bobok’’ (Ayyah, jangan ribut. Miya mau Bobok)’’. Dari dapur saya hanya tersenyum. Ketika diintip, ayyah masih terpaku pada sikakak yang melanjutkan aksi guling-gulingnya. Yah begitulah aktifitas Namiyah jelang tidur.

Bicara bahasa si kakak, akhir-akhir ini memang kami sekeluarga sering dibuat geli. Namiyah berusaha mengucapkan beberapa kata sehingga menjadi kalimat yang sempurna menurutnya.

Sore itu gerimis kecil. Namiyah sedang berada di sekolah bersama nenek yang memberikan materi les untuk anak didiknya yang akan Ujian Nasional. Ketika les usai, Namiyah dan nenek di jemput Titi (Panggilan sayang Namiyah untk Onty Hesty). Karena germis, namiyah dipakaikan jas hujan milik titi oleh nenek. Bisa dipastikan kebesaran dan longgar. Jadi ujung tangan diikat supaya jas hujan tidak lepas. Sepanjang jalan Namiyah justru menangis,’’Mana tangan Niya.. Mana  tangan Niya’’ teriaknya sepanjang jalan. Nenek justru usilin Miya dengan berkata,’’ Astaga, hilang Miy. Mungkin ketinggalan di sekolah,’’ jawab nenek. Namiyah makin berontak. Menangis sepanjang jalan. Nenek yang menceritakan kejadian sore itu sampai menangis saking gelinya dengan tingkah Miya.

Atau dongeng Miya untuk boneka lebah kesayangannya setiap jelang tidur. ‘’Bah, ayo bobok. Udah aem. Tutut ata. Ada ikus gigit. Ikus puam sana. Cari bubu. Udah aem. Bobok. Esok ain agi’’ (Lebah, ayok bobok. Tutup matanya. Nanti ada tikus gigit kalo nggak bobok. Tikus pulang sana, di cari Bubu (Ibu) sudah malem. Besok main lagi) begitu kira-kira dongengnya setiap malam untuk lebah kesayngannya. Setelah itu, si Namiyah mnta di elus-elus. Kadang harus bubu aja, kadang harus ayyah aja yang boleh elus-elus Namiyah jelang tidur. Setelah bosan, Namiyah meminta kami untuk elus-elus lebah kesayngannya sambil membacakan doa sebelum tidur dan disusul suara ‘’uss..usss..usss..usss’’ begitu hingga Namiyah terlelap.

Kejadian tadi pagi juga membuatku geli.Setelah siap dengan seragam kerja Namiyah yang tadinya lagi asyik nonton ‘’Sofia The First’’ lari ke kamar sambil berusaha menurunkan kaus dalamnya yang naik ke perut karena sudah mulai kecil. Namiyah berlari, terdiam sejenak melihatku sedang memakai jilbab. ‘’Lho kok nggak nonton kartun?’’ tanyaku. Namiyah menjawab ‘’Ndak au. Mana iti Niya’’? jawabnya. ‘’iti apa Nak’’? tanyaku lagi. ‘’Huaa.. mana iti niyaa.. mana iti niyaa.. ,’’ jawabnya sambil menangis dan minta gendong. (mana iti miya mana iti miya. ). ‘’Roti?’’ ‘’Ndak oti.. itiiii’’miya mau ke Titi? Tanyaku lagi. Lagi Miya menjawab, iyaa mau iti aja. Katanya lagi. Oke, jalanlah kami ke rumah nenek yang hanya beberapa meter dari rumah. Sampai disana, apel yang dibawanya langsung dibuang. Dan teriak ‘’Titii.. ana iti Niya?’’ katanya tanpa basa basi.

Titi langsung buka kulkas dan berkata ‘’Roti dorayakinya masih dingin. Nanti dimaem ya. Maem nasi dulu’’. Miya jawab ‘’Iya. Impan duyu. Nanti mam iti’’

Oalah. Ternyata roti dorayaki maksudnya. *Tepok jidat*ngakak*

 

Bapak Tua dan Pot

Kemarin malam, Minggu 11 Oktober 2015 ketika suara ‘Mbah’ (panggilan Miya untuk Pakde yang biasanya Adzan di Mushalla Komplek) untuk adzan Isya sudah terdengar. Disayup malam itu, Miya agak rewel. Mungkin karena sore tadi kecapekan main di Udayana dan tidur pulasnya terganggu dengan ciuman gemas dari onty, selepas magrib hingga Isya ini Miya masih nangis bombay. Abis makan Jagung, isak tangis manjanya mulai terdengar. Setelah itu minta untuk video mancingnya tadi sore diputar, bosan dengan video, Miya minta keluar untuk liat kucing. ”Puss. puss..” katanya sambil menghapus air mata. Baiklah, kali ini Bubu ikutin Miya untuk keluar rumah, kulihat juga keringatnya memenuhi ubun-ubun yang membuat rambut tipisnya basah. Sambil merasakan sepoi angin diiringi sayup-sayup suara dzikir dari Mushalla. ”Rupanya sudah selesai shalat Isya” batinku. ”Puss.. Ipuuuss” Kataku sambil melihat ujung jalan komplek. ”Ipusnya udah bobok” imbuhku. ”Bobok” jawab Miya mengikuti kata yang bisa dia ucapkan. maklum usianya baru 15 bulan dan sedang menyerap beberapa kata yang gampang dia sebutkan. 15 meter dari tempatku berdiri, ku lihat ada tetangga yang sedang tawar menawar dengan pedagang tua. ”Oh, Jual Pot,” bisikku. rupanya terjadi tawar menawar ketika itu. Namun tetangga memilih menolak dengan harga yang di lepas bapak tua itu. ”Ayah.. ayah..” teriakku memanggil suami. Aku tak tega melihat bapak tua itu. Ia berjalan lunglai dengan pot penuh di depan dan belakang. Aku merayu suami dengan menahan air mata. ”Tolong yah.. beli yah.. kasian”. rayuku.

Pot tanah  liat ukuran sedang itu dibawanya dari banyumulek hingga senggigi. JALAN KAKI. IYA!!! JALAN KAKI. Bapak tua itu jalan dari jam 4 subuh, sampai senggigi sekitar jam 2 siang. Ia telah membuat janji dengan bule disana. Namun sayang, si Bule yang di cari sedang ”pulang kampung” ke negara asalnya dan balik sekitar 6 tahun lagi. Bayangan untuk pulang tanpa pikulan pot hanya sia-sia. impian semua pot laku hari ini harus ditelan mentah-mentah. Terpaksa bapak tua harus kembali pulang dengan memikul 8 pot miliknya. Rasanya aku tak sanggup membayangkan bagaimana bapak ini jalan kaki sejauh itu dengan beban yang sangat berat. Kami membeli 3 pot miliknya. Dan kemudian ia kembali menawarkan kepada jamaah yang baru selesai shalat Isya. ”Pot Bu. Pot” jawabnya lirih. Sebisa mungkin ia berjalan kaki pulang malam ini. kemungkinan untuk menghemat ongkos ojek. ”Tapi kalau nggak kuat ya terpaksa ngojek” jawabnya sambil menggoyangkan bahunya yang pasti sangat pegal. Ibuku yang baru pulang shalat langsung menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca. Iya. selalu begitu. dan akupun begitu, adik-adikku juga begitu. Selalu cengeng kalo ngeliat orang tua atau anak kecil jualan. Entah itu yang dijual kurang menarik perhatian atau minim pembeli. setidaknya mereka tidak meminta-minta. Mereka mau berusaha. Kami hanya bisa membeli semampu kami. Biarlah kami cengeng. Paling tidak semoga sifat cengeng kami bisa tertular ke teman-teman yang lain. Biarlah kita cengeng. Biar.. iya.. nggak apa-apa kita cengeng. Cengeng kita bisa membuat kita sadar serupiah uang itu sangat berarti.

Miya hanya menatap bapak tua itu tanpa berkedip. dari tadi ia memelukku dan sudah lupa dengan ipus yang dicari. Ia juga terpana dengan Bapak tua dan potnya.

Catatan Kecil Untuk Namiyah

Hari ini, Sabtu 11 Juli 2015 ulang tahun Namiyah. Anak kesayangan Ah dan Bubu… Ah sama Bubu nggak bisa buatin pesta meriah buat Namiya. Nggak beli kue bertingkat warna warni buat Miya.. Kita Cuma tiup lilin diatas kue kecil aja ya nak. Hehe. Sama kasi kejutan kecil buat ibu bapak jompo dan anak-anak yatim di sekitar tempat tinggal ah waktu kecil dulu. Walaupun Miya belum ngerti, paling nggak Bubu dan Ah bisa kasi Miya kenangan kecil diultah pertama Miya. Begitupun dengan kado, Bubu Cuma bisa kasi catatan kecil tentang Namiya. Sekarang Miya memang belum bisa baca, tapi suatu saat nanti Bubu yakin Miya bakal simpan Catatan Bubu ini. Iya suatu saat nanti…

Catatan ini Bubu buat tiap bulan sejak lahirin Miya. Bulan pertama sampai kedua hanya berupa note dalam Hp karena Bubu belum sempat ngetik dan fokus buat urus Namiyah dirumah. Sejak mulai kerja, Bubu selalu sempetin buat catatan ini. Bukan untuk pamer, bukan untuk sombong. Tapi untuk berbagi kebahagiaan betapa ‘’Wow’’nya, betapa BAHAGIAnya punya malaikat kecil, dan betapa besarnya pengorbanan seorang ibu. Bubu jadi tau dan mengerti seperti itu perjuangan Mbah Ti buat lahirin Bubu, dan seperti itulah perjuangan Nenek buat lahirin Yayah.

Sejak cuti tanggal 3 Juli bubu selalu sibukkan diri dengan beres-berse rumah, nyuci baju, siapin perlengkapan Mimi dan masak buat buka puasa bareng Ah. Harusnya Bubu bisa cuti jelang melahirkan, biar waktu sama Miya lebih lama nantinya, tapi karena puasa jadi Bubu pilih cuti 1 minggu sebelum hari perkiraan lahiran. Kadang bubu suka geli kalo jemur baju.. yang kemarin rame dengan baju ah dan bubu sekarang makin rame lagi dengan baju mungil warna warni. Soooo cute dear! Dan sejak cuti itulah nenek, kakek, Onty, dan Bonty selalu was-was nunggu kelahiran Miya. Nenek pernah sore-sore lari kecil ke rumah buat pastiin apa bener Bubu udah kontraksi. (Padahal diusilin Onty). Besoknya, Onty yang lari ngebut buat liat Bubu, katanya Bubu melahirkan (padahal diusilin nenek). Begitu terus. Hehe, padahal bubu lagi asyik nonton atau lagi masak. Hihi. Bubu sering ketawa karena semua pada was-was nunggu Miya.

Hari itu ..

Rabu 9 Juli 2014.

Bubu masih inget betul karena seluruh masyarakat Indonesia lagi ngerayain pesta demokrasi, yap Pemilu. Dari perkiraan dokter Miya bakal lahir tanggal 7 sampe selesai nyoblos milih Presiden belum juga ada tanda-tanda. Bubu juga masih puasa penuh semangat. Setalah nyoblos, siangnya Bubu ajak Ah sesi photo Hamil. Itung-itung buat kenangan. Dengan berbagai cara dan alasan akhirnya Ah mau juga (maklum, Ah paliiing males dan mules kalo diajak Foto). Sayang beribu sayang, hari itu studio tempat foto ternyata tutup. Dengan berbagai alasan pula akhirnya Ah bilang besok aja kita foto. Siang itu akhirnya ke pasar dan lewatin seperti hari sebelumnya. Masak, buka puasa, tarawih. Pulang tarawih ada yang aneh rasanya. Perut melilit lilit. Rutinitas setelah tarawih (jalan-jalan) berlangsung lebih lama dan jauh. Malam itu Bubu nggak bisa tidur. Hadap sana sini rasanya ngganjel terus. Ah juga nggak bisa itidur (soalnya ada semifinal piala dunia, hihi).

Kamis, 10 Juli, 2014

Setelah sahur dan shalat shubuh, Bubu jalan-jalan lagi. Tambah mules. Akhirnya diputuskan untuk ke Rumah Sakit pagi itu. Jam 8 pagi Ah, Bubu sama Nenek ke RS Wira Bhakti. Setelah di cek bu Bidan ternyata baru bukaan satu. Ah sama Bubu langsung pesen kamar di RS, takutnya kalau tiba-tiba udah bukaan sekian biar nggak bingung, apalagi rumah kita jauh. Masuk kamar, bubu batalin puasa. Karena nggak ada jualan akhirnya delivery K*C. Bubu semangat pesen ini itu. Padahal nggak bisa habisin semua. Setelah konsultasi dengan dokter, akhirnya harus dirangsang karena Namiya harusnya udah lahir tanggal 7. Jam setengah 9 bubu dirangsang. Sakitnya itu duhai nikmat sayang.. Setelah mules, jalan keliling RS, istirarahat, jalan, jalan dan jalan terus untuk mempercepat proses bukaan sampai jam 5 masih bukaan 2. Lagi-lagi dokter kasih perangsang. Sakitnya luar biasa sayang.  Smua kesalahan ke Mbah Ti terbayang-bayang. Bubu samapai kekeuh Mbah Ti jangan datang dulu karena takut jadi manja. Nggak tau udah berapa orang ibu hamil yang lewat sebelah kamar kita ke ruang bersalin, terus keluar sambil bawa bayi mungilnya. Itu buat bubu makin semangat buat jalan lagi. Seberapapun sakitnya. Harus kuat demi Miya. Dari sini bubu lebih tahu lagi Luar biasa perjauangan seorang ibu.

Didalam ruang bersalin setelah dikasi perangsang, Ah terus bisikin ke Bubu sambil nunjuk ke adek bayi yang di dalam incubator ‘’Itu sayang, liat.. sebentar lagi kita punya yang kayak begitu’’. Bubu semangat lagi buat jalan. Miya tau sendirikan.. kita sama-sama berusaha waktu itu. Keliling sampai malam dilapangan rumah sakit. Sampai bapak-bapak tentara juga kasih saran dan support. Berbagai minyak dan air ‘jampi-jampi’ udah bubu minum. Tapi belum juga ada tanda-tanda.

Setelah dicek lagi, Jam 11 malam masih bukaan 4. Bubu pasrah. Bubu putus asa nak. Setelah minta maaf sama nenek, kakek, mbah Ti sama mbah Kung akhirnya bubu masuk ruang bersalin. Bubu tetep istigfar. Tetap ikutin kata nenek dan ah buat baca beberapa surah dan do’a. Nenek bimbing bubu buat baca ayat kursi, tapi tiba-tiba ah bisikin bubu buat tetap istigfar. Karena jengkel dan bingung akhirnya bubu tepuk dikit mulut Ah. Astagfirullah.. Bubu baru sadar pas semua sesi lahiran selesai. Dan minta maaf ke superman kita. Bubu udah jahat sama ah. 😥

Jam setengah 12 Bidan bilang waktu obervasi sampai jam 3. Itu artinya kalau blm ada perkembangan jam 3 terpaksa dioperasi. Bubu bilang ke ah sambil bisik, ‘’Sayang, yas nggak kuat. Yas Nyerah. Yas nyerah sayang’’

Jum’at, 11 Juli 2014

Dini hari. 00:10. Setelah pasrah dengan rasa sakit yang luar biasa, bubu masih tetap berharap bisa melahirkan normal. Sambil terus istigfar bubu pejamin mata. Ada sosok bayi putih dengan pipi chubby senyum-senyum dipikiran bubu. Masih dalam keputus asaan, bidan cek lagi ternyata udah bukaan 8. Hah bukaan 8? Tiba-tiba semangat bubu membara. Bidan ajarin cara ngedan.okay bubu sedikit paham. Namun latihan pertama justru bubu salah tarik nafas. Yang keluar justru suara tarikan nafas seperti orang sesak. Bu bidan langsung lari masuk sambil teriak ‘’Astaga.. ada riwayat sesak? Kalau ada kita nggak bisa lanjut. Harus oprasi.’’tegas bidan. ‘’Mbak Tyas jangan panik. Harus tenang. Atur nafas.. baik.. nafas lebih santai’’. Lanjutnya lagi karena beliau juga yakin bubu bisa lahiran normal. Dibalik rasa sakit. Dibalik perih, dibalik rasa yang nggak bisa diungkapkan melalui tulisan, melalui lisan.. lagi-lagi bubu membayangkan bayi mungil putih dengan hidung mancung dan pipi montok lagi senyum. Ah rasanya tenaga bubun full. Nggak lama sekitar jam 1 Miya lahir dengan tangisan yang cetar membahana badaii. Semua bahagia.. semua menangis penuh haru. Welcome to the world my little girl.

Namiyah Adzkia Syarif. Lahir Jumat 11 Juli 2014. BB: 3,800 Gr PB: 51 cm. ALHAMDULILLAH YAA Allah… Bubu menangis. Bukan karena kesakitan nak. Karena bahagianya bisa ngeliat langsung baby belly yang selama 9 bulan terus temenin Bubu.

Lelaki kita

Eh.. sebelumnya bukan lelaki kita tapi lelakiku.. hehe… inget banget gimana pertama kali ketemu si lelaki itu Nak… (sekarang nulis pake Nak bukan Miy, ntar adk-adk Miya ngambek kok cuma buat Mimi catetannya) hehe.. Ketemu tahun 2010. Cuek minta ampun. Waktu itu Ah diundang buat main ping pong diposko KKN Bubu, berhubung peserta untuk lomba ping pong minim, jadi ah yang waktu itu kerja di wilayah Praya diundang dateng ke posko Bubu. Tegur sapa nggak, senyum nggak,nkenalan apalagi! SOMBONG BANGET!!! Ya berhubung itu teman kuliah ketua KKN bubu, biarlah dia bermain bersama. Hehe. Akhirnya hari pertemuan itu ditutup dengan cuek cuekan. Bubu pergi ngajar buta aksara ke dusun sebelah dan Ah main ping pong entah sampe jam berapa. Pulang ngajar udah nggak ada. Hari berganti hari bulan berganti bulan tahun berganti tahun. Hehe. Kira-kira setelah itu perkenalan sama Ah hanya lewat Fb, komen foto bubu dan begitu seterusnya. Nggak pernah ketemu, nggak pernah kenalan langsung karena waktu itu memang sibuk dengan kesibukan masing-masing. Awal

Pumping Pumping Pumping

Namiyah… Sebentar lagi puasa nak… Inget tahun lalu kita puasa bareng ^_^. Aaah.. Bubu masih lincah kesana kemari. Masih kuat ngiterin pasar dengan bawa Mimi 3,6 kg dan berat total Bubu 80kg. ckckck. Dokter Adib juga sampe kaget nak. so bubu harus kurangi gula biar berat baby belly nggak kelewat batas. Sekarang bayi bubu udah 11 bulan. Mamam banyak, mimiknya juga banyak. Nggak peduli walaupun udah makan, wajib hukumnya buat mimik ASI. Disaat ASI mulai seret. stock sedikit banget, kalah sama Namiyah yang kuat mimik. Kadang bubu iri liat diiklan-iklan dan teman-teman di IG yang pada banjir ASI, stock sampe menuhi seluruh isi kulkas. Tapi Alhamdulillah tetep disyukuri aja ya sayang. Setidaknya hasil pumping semalam bisa buat Miya sampe siang ini. Siang ini bubu pulang, pumping. hasilnya bisa buat Miya siang sampe sore bubu pulang kerja. Begitu seterusnya. Kadang tengah malam bubu pumping, tapi hasilnya nggak bisa sampe 50 ml. Bubu sangat menikmati. Walau harus lewati hujan deras dan panas terik tapi ketemu sama Miya jadi buat capek ilang. Semoga puasa nanti Bubu tetap sehat, bisa pulang dijam istirahat dan tetap kuat walau breastfeeding dan pumping. Bismillah.

Dulu stock paling banyak cuma 12 botol itupun isinya cuma 70-80 ml. Teman-teman bubu kaget, pas tau miya NO Sufor. Bagi mereka Bubu pasti banjir ASI. Nyatanya? ASI nggak pernah ngrembes kayak dulu waktu Miya baru lahir. Udah minum ini itu juga hasilnya tetap segitu. sekali lagi Tetep bersyukur nak. Walau pas-pasan tapi miya setiap hari tetap bisa minum ASI. Miya jadi anak sehat, cerdas, dan ceria. Alhamdulillah.. Sekarang mau perkenalkan Sufor ke Miya, Jaga-jaga selama bulan puasa ini stock ASI habis, jadi siang Miya minum Sufor. Hadduh.. Bubu merasa sangatttt bersalah. Walau menurut sebagian besar teman-teman Bubu itu sah-sah saja karena udah lewat 6 bulan, tapi tetep aja rasanya nggak rela. Ketidakrelaan Bubu sejalan dengan Miya yang selalu nolak sufor. ”Ndaakk”, ‘iyyyeekk”, ‘uueeek” itu sederetan kata yang Miya keluarkan, mungkin untuk satu kata ”NO SUFOR”. Bahkan diliat dari warna ASI dan susu formula  yang berbeda juga Miya bakal langsung ‘buang muka’ tiap liat sufor dalam dot kesayangannya.  hmm.. Anak Ah Bubu (raed: Ayah Bunda) yang  pinteeer 😀 IMG_20141014_163327

11 Bulan Namiyah

Hey anak kesayangan Namiyah Adzkia Syarif. Nggak terasa sekarang udah 11 bulan passss!!! (Sebenarnya lebih 1 hari, karena note ini sebelumnya Bubu buat di Blogger dan sekarang nyoba di wordpress). Katrok banget ya sayang? Udah tahun 2015 kita baru nyoba-noba pake blog. hehe. Biarlah. yang penting sejarah kita nggak akan mati karena ada catatan ini ya nak. hihi.  Kembali tentang Namiyah. Huuftt… waktu ini terbangnya cepet sekali ya nak. siang, malem, siang, malem eh tiba-tiba Namimi udah bisa duduk, merangkak, berdiri dan bentar lagi bisa jalan. Kalo waktu luang dikantor kayak gini bubu sempetin buat catatan kecil tentang Mimi. Nggak tau kenapa, bagi bubu hanya meninggalkan sederetan foto rasanya kurang afdol, kurang pas tanpa cerita haru dan bahagianya. Udah lama banget Bubu nggak nulis. Rasanya agak salah tingkah dan deg-degan. Tapi ”Tak Apelah” (Upin Ipin, Mode on :D) yang penting catatan Bubu yang tak beraturan ini bisa jadi sejarah cerita singkat yang bisa Namimi baca kapan aja. Eh Nak, sekarang udah jam 16.34 Wita, Bubu shalat dulu biar ntar sampai rumah bisa langsung masak, nyuci, oupss pumping dulu terus nyuci dan kemudian kita bermain bersama. Yihaaaa *\(^_^)/*